Klippings

Clippings of various news and articles that tickle my interest of reading or knowing about it.

Saturday, August 18, 2007

Tempat Penulisan Naskah Proklamasi : Rumah Babah Djiaw yg terlupakan


SEJAK Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Soekarno-Hatta, 17 Agustus 1495, rumah alm. Babah Djiaw Ki Siong di Dusun Bojong Kec. Rengasdengklok Kab. Karawang diabadikan sebagai rumah bersejarah. Rumah seorang petani keturunan Tionghoa di pinggir Sungai Citarum itu pernah dipakai tempat tinggal para "Bapak Bangsa" dalam menyusun naskah proklamasi, sebelum naskah itu dikumandang kan di Jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta.

Karena dinobatkan sebagai rumah bersejarah, seluruh bangunan rumah yang berdinding kayu jati, beratap genting tua, dan beralaskan batu bata itu dan sampai sekarang masih ditempati anak cucu Djiaw Ki Siong sebagai pemiliknya, tak boleh diperbaiki apalagi diubah seenaknya. Pelarangan itu muncul karena kekhawatiran nilai keaslian rumah itu punah. :foto :video

Anehnya, dari dulu hingga sekarang, pemerintah hanya cukup memberikan nama rumah bersejarah yang harus dilestarikan. Di luar itu sama sekali tak pernah ada perhatian bagi si pemiliknya. Sementara itu, kondisi rumah kian tua dan terancam mengalami kerusakan. Andai rumah itu ambruk, bagaimana nasib keluarga yang sekarang menempati rumah itu?

Ketika Babah Djiaw Ki Siong masih hidup, sejumlah perkakas rumah yang dulu pernah dipakai Bung Karno sekeluarga, Bung Hatta, dan tokoh proklamator lainnya diangkut ke museum di Jabar. Sayangnya, Djiaw Ki Siong -- yang pekerjaan sehari-harinya sebagai petani kecil -- tak sepeser pun mendapat ganti rugi saat barang-barang miliknya itu diboyong ke museum.

"Meski demikian kedaannya, keluarga kami tetap bangga rumah ini telah dijadikan simbol rumah bersejarah bagi perjuangan bangsa. Bingungnya, rumah ini sudah lapuk dan sudah mengkhawatirkan bila dipakai tempat tinggal, sulit untuk diperbaiki karena dilarang pemerintah," kata Ny. Iin alias Djiaw Kwin Moy, cucu Djiaw Ki Siong yang sekarang menempati rumah tersebut. Di rumah itu pernah tinggal Bung Karno, Bung Hatta, Sukarni Yusuf Kunto, dr. Sucipto, Ny. Fatmawati, Guntur Soekarnoputra, dan lainnya selama tiga hari, pada 14-16 Agustus 1945.

Pada tahun 1958, rumah bersejarah itu pernah dipindahkan karena tergusur pelebaran pembangunan Sungai Citarum. Sebelum dipindahkan, dua perangkat tempat tidur terbuat dari kayu jati, tempat tidur Bung Karno dan Bung Hatta, seperangkat tempat minum dan seperangkat meja kursi tempat duduk para tokoh proklamator, diambil pihak museum Bandung.

Engkong (kakek) Djiaw Ki Siong merelakan semua perkakas rumah untuk diabadikan sebagai benda bersejarah. Membangun rumah di tempat baru yang harus dipertahankan keasliannya pun semuanya dibiayai dari hasil jerih payah engkong, tanpa sepeser pun bantuan pemerintah," kata Yayang, suami Ny. Iin. Padahal, engkong hanyalah seorang petani kecil di Rengasdengklok.

Di antara para tokoh nasional yang memberi perhatian besar kepada keluarga Djiaw Ki Siong adalah Mayjen Ibrahim Adjie yang pada saat itu menjabat sebagai Pangdam III Siliwangi. Pangdam pernah memberi penghargaan kepada Babah Djiaw berupa selembar piagam nomor 08/TP/DS/tahun 1961.

Setelah Babah Djiaw meninggal pada tahun 1964 dan beberapa tahun berselang berganti kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto, rumah bersejarah diwariskan kepada anak pertama Babah Djiaw, yakni Ny. Tiaw Siong (ibunda Ny. Iin). Sekali lagi, tak ada perhatian apa pun dari pemerintah. Malah, Ny. Tiaw sempat tak dibolehkan menerima tamu siapa pun yang ingin tahu rumah bersejarah itu.

Sekira tahun 1980-an, di Lapangan Rengasdengklok yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari rumah alm. Djiaw, dibangun Tugu Perjuangan dengan biaya besar. Anehnya, pihak pemerintah sama sekali tak melirik keberadaan rumah Djiaw yang kondisinya sudah rusak termakan usia. Padahal, di rumah itu naskah proklamasi disusun sehari sebelum Indonesia merdeka.

"Anehnya lagi, tatkala rumah ini akan direhab karena banyak bagian yang rusak, keluarga kami malah harus lapor kesana-kemari. Akhirnya tak dibolehkan direhab, khawatir bagian rumah bersejarah berubah wujud. Karena dilarang itu ya... sampai sekarang beginilah keadaan rumah kami yang kalau terus-terusan tak dibolehkan direhab bisa-bisa ambruk," kata Ny. Iin. Ia menolak keras rumor bahwa rumahnya itu mendapat aliran sumbangan untuk biaya perawatan.

Babah Djiaw pernah berwasiat, keluarga yang menempati rumah bersejarah itu harus bersabar. Tak dibolehkan merengek minta-minta sesuatu kepada pihak mana pun. Bahkan, harus rela setiap hari menunggu rumah ini demi memberi pelayanan terbaik kepada para tamu yang ingin mengetahui sejarah perjuangan bangsa.

Karena manutnya akan wasiat engkong Djiaw, Ny. Tiaw yang kesehariannya berjualan kue di Pasar Rengasdengklok terpaksa harus berada di rumah. Begitu juga Ny. Iin yang sudah hampir tiga tahun setelah ibundanya meninggal selalu berada di rumah. Sementara itu, yang berjualan di toko adalah sang suami. Sayang, keluarga Yayang tak bisa berjualan kue di pasar, setelah tahun lalu Pasar Rengasdengklok habis dilalap api.

Berkat kesetiaan Ny. Tiaw dan Ny. Iin, sebagai ahli waris rumah bersejarah, setiap tamu dilayani dengan baik. Mereka pun mampu memberi keterangan sejarah tentang keberadaan rumah miliknya kepada setiap tamu yang datang. Memang, tak dimungkiri, di antara sekian puluh ribu tamu ada saja yang memberi uang alakadarnya.

"Tak apa-apalah rumah bersejarah ini tak diperhatikan siapa pun. Yang penting, kami pemiliknya punya kebanggaan tersendiri ikut menoreh perjuangan bangsa ini," kata Ny. Iin sambil menyatakan bahwa ia dan keluarganya sering bermimpi bertemu Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh yang dulu pernah menginap di rumahnya.

Rumah bersejarah milik alm. Djiaw Ki Siong berada di sebuah perkampungan di lingkungan padat perumahan masyarakat Dusun Bojong. Dari lapangan Tugu Perjuangan ke rumah itu, ada jalan sempit belum beraspal. Bila hujan turun, jalan becek menyulitkan tamu berkunjung ke rumah itu.

Di ruang tamu berukuran 6 x 8 meter terdapat dua buah meja ukir jati. Di atasnya terpampang buku-buku sejarah perjuangan. Ada buku tamu tebal dan sudah penuh diisi tandatangan puluhan ribu tamu. Di dinding tembok kayu terpampang gambar alm. Djiaw Ki Siomg berdampingan dengan gambar Bung Karno terbingkai kaca.

"Di kamar inilah Bung Karno, Ibu Fatmawati dang putra ciliknya Guntur istirahat tidur. Di samping kiri kamar, tempat Bung Hatta dan tiga tokoh proklamator istirahat, sementara bangku dipan ini tempat para ajudan Bung Karno berjaga," kata Yayang sambil menunjuk dua buah kamar yang sudah lama tak pernah dipakai tempat tidur. Sementara itu, tempat istirahat keluarga Yayang berada di belakang ruang tamu yang sekarang sudah direnovasi secara permanen.

Pascareformasi, rumah Djiaw Ki Siong cukup sering dikunjungi para tamu. Sejumlah tokoh nasional seperti Akbar Tanjung, Roy B.B. Janis, Guntur Soekarnoputra, Gempar Soekarnoputra, Harmoko, dan sejumlah tokoh dari fungsionaris PDIP sering datang juga. Adapun Megawati Soekarnoputri baru berjanji saja, karena sampai sekarang belum berkunjung.

Tokoh pejuang yang juga seniman kondang Karawang, R.H. Tjetjep Supriyadi menyesalkan pemerintah yang sama sekali tak memerhatikan rumah sejarah Babah Djiaw Ki Siong. Termasuk juga, para pejuang Rengasdengklok yang dulunya ikut bergerilya, berjuang membela negara.

"Saya malu Tugu Pangkal Perjuangan Rengasdengklok amburadul. Jalan menuju Rengasdengklok rusak berat, apalagi jika melihat kondisi rumah Djiaw Ki Siong yang hampir roboh. Heran saya, kok jadi begini perhatian para pemimpin bangsa," tegas R.H. Tjetjep Supriyadi, yang mengaku ikut berjuang dalam perang gerilya di Rengasdngklok.

Tjejep membeberkan, sebetulnya Hari Proklamasi Kemerdekaan RI rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada Hari Kamis tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok, di rumah Djiaw Ki Siong. Naskah teks proklamasi sudah ditulis di rumah babah itu. Bendera merah putih sudah berani dikibarkan para pejuang Rengasdengklok pada Rabu tanggal 15 Agustus, karena tahu esok harinya Indonesia akan merdeka.

"Ketika naskah proklamasi mau dibacakan, tiba-tiba pada Kamis sore kedatangan Ahmad Subarjo. Ia mengundang Bung Karno dkk. berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56," kata Tjetjep Supriadi.(H. Undang Sunaryo/MD/Dodo Rihanto/"PR")***

Tuesday, July 25, 2006

Read the fine print

Over 212 years, 42 presidents issued "signing statements" objecting to a grand total of 600 provisions of new laws. George W. Bush has done that more than 800 times in just over five and a half years in office.
Most presidents used signing statements to get legal objections on the record for judges to consider in any court challenge. For Bush, they are part of a strategy to expand presidential powers at the expense of Congress and the courts. His signing statements have become notices to Congress that he simply does not intend to follow the law, especially any attempt to hold him accountable for his actions.
Some of Bush's signing statements have become notorious, like the one in which he said he didn't feel bound by the new law against torturing prisoners. Others were more obscure, like the one in which he said he would not follow a law forbidding the White House to censor or withhold scientific data requested by Congress.
But all serve the "unitary executive theory" cherished by some of Bush's most extreme advisers, including Vice President Dick Cheney and his legal staff. This theory says that the president - and not Congress or the courts - has the sole power to decide how to carry out his duties.
Administration officials say the president is just trying to stop Congress from interfering with his ability to keep the nation safe, and that other presidents also included constitutional objections in their signing statements. That's just smoke.
The American Bar Association called Bush's use of presidential signing statements "contrary to the rule of law and our constitutional system of separation of powers" and recommended that Congress enact legislation clarifying the issue.
We agree on both points. But we fear that if Congress passes such a bill, Bush will simply issue a new signing statement saying he does not intend to follow it.

http://www.iht.com/articles/2006/07/25/opinion/edbush.php

Thursday, July 20, 2006

Portrait of a Blogger: Under 30 and Sociable

Portrait of a Blogger: Under 30 and Sociable
Survey Finds Need to Connect With Family and Friends and to Meet New People

By Kim Hart
Washington Post Staff Writer
Thursday, July 20, 2006; D05

They consider themselves digital natives.

They're young. They're addicted to instant messaging and social networks. And they're more apt to dish about the drama at last night's party than the president's latest faux pas.

Bloggers have become influential fixtures in cyberspace, but the term covers about 12 million people who write Web logs, known as blogs. The Pew Internet & American Life Project yesterday released a survey of bloggers aimed at getting a better grasp on who they are and why they do what they do.

More than half of bloggers are younger than 30, and a majority use their blogs as a mode of creative expression, the survey found. Money-making possibilities motivate only 15 percent of bloggers, and most blog on a variety of topics, with 11 percent focusing on politics.

They are also less likely to be white than the general Internet-using population, and more than half live in suburban areas, according to Pew.

"Bloggers in general don't intend to have a lot of impact," said Amanda Lenhart, who directed the survey. "The motivation comes from within; it tends to be very personal. They're not out to change the world."

But blogs are changing the way people, particularly young adults, communicate. About 60 percent of bloggers maintain their Web sites to keep in touch with friends and family, and half of them blog to network or meet new people, the survey said.

Blogs are also gaining readers, even if it's fewer than 10 a day, which was reported by nearly 25 percent of the bloggers surveyed. The number of people regularly reading blogs has doubled in the past two years, and more than 49 million blogs are now on the Web, the blog-tracking service Technorati Inc. said.

"Of all the bloggers out there, there are only about 10,000 that have an audience beyond their friends and families," said B.L. Ochman, a business blogger who tracks online trends.

"It astounds me that people are willing to do this stuff without getting paid," Ochman said. "I come from a generation that gets paid for our work."

Although advertisers are slowly shifting dollars into the blogosphere, the majority of bloggers say they maintain their blogs for themselves, not for their audience.

About 33 percent of bloggers see blogging as a form of journalism, the survey showed.

"The average blogger is a 14-year-old girl writing about her cat," said Alexander Halavais, an assistant professor of interactive communications at Quinnipiac University in Connecticut.

Typical bloggers are not ranting about politics or trying to be hard-core journalists, he said. "The survey shows that blogging is really a community-based activity and a way of connecting with people."

LiveJournal is the most popular blog-hosting site, followed by MySpace, Blogger and Xanga. Text and photos tend to dominate blogs, but a growing number of bloggers are adding audio and video content. The typical blogger spends less than five hours per week posting material on a blog, the survey shows.

Most bloggers maintain their sites as a hobby, an encouraging concept to Halavais.

"It's not just the hard-core geeks and news junkies doing it," he said. "It's a good thing for our culture as a whole to have such a wide variety of people writing."

The number of bloggers will continue to grow in coming years, Lenhart predicted. Eighty percent of the survey respondents plan to be blogging a year from now.

"There's a new blog every five minutes," Ochman said. "Now everybody's got a printing press."

http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2006/07/19/AR2006071901900_pf.html

Tuesday, June 20, 2006

Therapy can help stress-related infertility: study

By Patricia Reaney
PRAGUE (Reuters) - Stresses of everyday life can cause infertility but behavioural therapy can help, an American researcher said on Tuesday.
Instead of resorting to expensive drugs, Professor Sarah Berga, of Emory University in Atlanta, Georgia, has shown that reducing stress through a combination of measures can restore ovulation and fertility.
"Stress really can be a cause of infertility, in men and in women, and it can be managed," Berga said at a fertility conference.
"But by managing it you improve your fertility."
Berga said a combination of small stresses can cause amenorrhea, a lack of monthly periods and ovulation, which has previously been associated with under-nutrition and excessive exercise.
"The collection of small stresses is worse for your fertility ... than one big stress," she added.
In a small pilot study, she and her team tested the impact of cognitive behavior therapy (CBT) on women of normal weight who had suffered from amenorrhea for more than six months. They confirmed the women were stressed by measuring levels of cortisol. Amounts of the hormone increase during stress.
The women were divided into two groups. Half received CBT, which consisted of coaching on nutrition, exercise and ways to reduce stress, for 20 weeks and half had no therapy.
"A staggering 80 percent of the women who received CBT started to ovulate again, as opposed to only 25 percent of those randomized to observations," said Berga, adding that their levels of cortisol had also dropped.
Two women who received CBT became pregnant shortly after finishing the treatment.
An estimated five to 10 percent of women suffer from amenorrhea, about half of which is thought to be related to stress.
"So at any one time, five percent of the women in the world of reproductive age have stress-related amenorrhea," Berga said.
She added that CBT offers a holistic treatment that is safe, cost effective and easy-to-implement. The researchers are planning a larger study to confirm their results.

Cutting stress may increase chances of pregnancy

Cutting stress may increase chances of pregnancy

· Therapy sessions helped restore fertility, says study
· Finding offers alternative to expensive treatments

Ian Sample in Prague
Wednesday June 21, 2006
The Guardian


Women who are struggling to get pregnant could improve their chances of conceiving by having stress-reducing therapy sessions, scientists claimed yesterday.
Researchers in the US found that rising levels of stress can lower a woman's fertility by disrupting her menstrual cycle, and in some cases prevent ovulation completely. But a pilot study of women who had not had a period for at least six months found that psychotherapy had a dramatic effect, lowering stress levels and restoring fertility in 80% of cases.

Scientists believe between 5% and 10% of women experience a loss of periods at some time, and in most cases the cause is poor nutrition or over-exercising. But a much larger number of women are believed to suffer a mild disruption to their periods that adversely affects their fertility.
Professor Sarah Berga, who led the study at Emory University in Atlanta, Georgia, said psychotherapy could be a viable alternative to expensive and often complex fertility treatment. She said that people often tried to deal with stress by exercising, but experiments showed that this only raised stress levels further. Likewise, lounging around at home was not enough to reduce anxiety.

In the study, the scientists monitored women with a condition called functional hypothalamic amenorrhea (FHA), which is caused by a drop in GnRH, a hormone that stimulates ovulation. None of the women had had a period for more than six months. Tests on the women revealed that they had high levels of the stress hormone cortisol. Professor Berga split the women into two groups of nine. Half received 20 weeks of cognitive behaviour therapy (CBT), a form of psychotherapy that was designed to adjust their way of thinking and reduce their stress levels. The other half did not receive any therapy.

Prof Berga said: "A staggering 80% of the women who received CBT started to ovulate again, as opposed to only 25% of those randomised to observation." Tests showed that those who had become fertile again had far lower levels of cortisol and higher levels of GnRH.

Although none of the women, who were aged 20-35, were asked whether they were trying for a baby, two became pregnant within two months of the therapy sessions ending. "People are disbelieving that stress is a cause of infertility. The nail in the coffin is that reducing cortisol causes the GnRH signal to ramp up," Prof Berga said.

Speaking at the annual meeting of the European Society of Human Reproduction and Embryology in Prague, Prof Berga said that people suffering stress often do not notice or admit to it. "These women didn't report feeling stressed. But when we spoke to them it was clear that they tend to have a loss of perspective, they think they can get more done in a day than is realistic and their sense of self-worth is linked to their achievements at work," said Prof Berga. "The therapy was targeted to what was bothering them. We teach them to love themselves."

Prof Berga is beginning a study of between 2,000 and 4,000 women to further investigate the link between stress and fertility. "If the larger scale study confirms our earlier results, we will have very strong evidence for offering stress reduction as an effective therapy for a significant group of infertile women," she said.

At a fertility clinic in Israel, an experiment suggests that laughter can help boost pregnancy rates significantly.

Dr Shevach Friedler at Assaf Harofeh Medical Centre in Zerifin graduated from a school of movement and mime in Paris before becoming a physician. "We know that laughter is good at reducing stress and IVF can be a very stressful experience, so I wanted to see if clowning could help," he said. In the study, a trained clown was sent to entertain women for 10-15 minutes shortly after they had received IVF treatment. The researchers found that the clowning boosted pregnancy rates considerably, from 20%-35%.

Monday, May 22, 2006

Bung Karno dan 'Islam Sontoloyo'

TEMPO edisi. 13/XXXV/22 - 28 Mei 2006
Islam Sontoloyo A. Suryana Sudrajat
· Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam pada Program Pascasarjana
UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

ITU salah satu judul tulisan Bung Karno tahun 1940 di majalah Pandji
Islam terbitan Medan. Waktu itu dia di Bengkulu, tanah pembuangannya
setelah Endeh. Sejak di "tanah misi" itu, BK memang punya minat yang
serius- pada Islam. Sementara dulu ditumpahkan dalam surat-suratnya
kepada Ustad A. Hassan, pemimpin Persis di Ban-dung, sekarang
dicurahkan ke dalam pelbagai karangan.

Arkian, BK, yang juga mengajar di SD Muhammadiyah setempat, membaca
satu "parchabaran yang gandjil" di koran Pemandangan (6 April 1940).
Yakni tentang guru agama yang dijebloskan ke bui karena mencabuli
muridnya. BK sendiri merasa tidak terlalu aneh kalau ada guru yang
tega memperkosa anak didiknya sendiri. "Yang saya katakan ganjil ialah
caranya si guru itu 'menghalalkan' ia punya perbuatan," tulis BK. Agar
guru itu bisa memberi pelajaran kepada murid-muridnya yang perempuan,
yang mesti dilangsungkan secara tatap muka, maka mereka "di-mahram"
alias dinikahi dulu. "Sungguh, kalau reportase….itu benar, maka
benar-benarlah di sini kita melihat Islam sontoloyo!"


Islam sontoloyo?

Dalam surat-suratnya dari Endeh yang terkenal itu, BK berbicara
tentang bagaimana "mengoperasi Islam dari bisul-bisulnya", bagaimana
memerdekakan alam pikiran dari "kejumudan", "taklidisme",
"hadramautisme", dari sikap dan praktek "mengambing", "kolot bin
kolot", "mesum mbahnya mesum", dan dari lingkungan "dupa dan korma dan
jubah dan celak mata".

Bagi Bung Karno, "Islam is progress". Suatu keyakinan yang harus
terus-menerus diterjemahkan dan diperbarui tiap zaman. Ini karena
masyarakat "adalah barang yang tidak bisa diam, tidak tetap, tidak
mati, tetapi....bergerak senantiasa, maju, berevolusi dan dinamis".
BK, dalam kata-katanya sendiri, ingin menangkap Islam sebagai "api",
bukan Islam sebagai "abu", apalagi Islam sebagai "sontoloyo".


Islam sebagai sontoloyo?

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, "sontoloyo" ber-arti konyol,
tidak beres, bodoh, yang dipakai sebagai kata makian. BK dengan
ungkapan-ungkapannya yang sarkastis memang terkesan royal membombardir
paham dan praktek keberagamaan yang dianggapnya jumud (beku) dan tidak
rasional.
Salah satu sumber kesontoloyoan itu, menurut BK, karena kaum
muslimin menganggap fikih sebagai satu-satunya tiang keagamaan. "Kita
lupa, atau tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali
terletak di dalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah SWT. Kita
lupa bahwa fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murni-nya,
belum mencukupi semua kehendak agama," tulisnya.

Meski begitu, BK mengingatkan pembacanya bahwa diri-nya tidaklah
membenci fikih. "Saya bukan pembenci fikih. Saya malahan berkata bahwa
tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fikih."
Jadi? ''...saya hanya-lah pembenci orang atau perikehidupan agama yang
terlalu mendasarkan diri kepada fikih itu sahaja, kepada
hukum-hukumnya syariat itu sahaja." Di akhir tulisannya, BK
menyatakan, "Jika pemuka-pemuka kita hanya mau bersifat ulama-ulama
fikih sahaja dan bukan pemimpin kejiwaan sejati, maka janganlah ada
harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa atau
kekuatan jiwa yang haibat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib
yang sekarang ini…. Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin, tetapi
hendaklah kita insaf bahwa banyak di kalangan kita yang Islam-nya
masih Islam sontoloyo!"

Untuk membebaskan umat dari Islam yang sontoloyo, BK, dalam
artikelnya "Memudakan Pengertian Islam", bicara soal perlunya
pemikiran baru. Panta rei, segala hal berubah, ia mengutip Heraclitos.
Pokok tidak berubah, agama tidak- berubah, tetapi
pengertian-pengertian manusia tentang ini selalu berubah. Koreksi
pemahaman selalu ada. Islam mandek berabad-abad, kata dia, karena
ditutup-nya bab el ijtihad. Dan bisa berkembang kembali, katanya-,
dengan mengutip Farid Wajdi, hanya jika penganut-nya menghormati-
kemerdekaan roh, kemerdekaan akal, dan kemerdekaan pengetahuan.

Mungkin karena karangan-karangannya itu, di kemudian hari A. Dahlan
Ranuwiharjo memberi predikat tambahan kepada BK: pemikir Islam,
sebagaimana Moh. Natsir, Prof H.M. Rasjidi, atau Haji Agus Salim.
Dahlan, yang mantan Ketua Pengurus B Himpunan Mahasiswa Islam dan
disebut-sebut Megawati sebagai "Islam nasionalis" itu, menyebut BK
seorang teknolog, pejuang, politisi, pemikir, ideolog, filosof,
budayawan, seniman, internasionalis, humanis, dan huisvader (bapak
rumah tangga) yang baik. Mana yang pa-ling tepat dari beberapa julukan
yang diberikan ayah mantan peragawati Dhani Dahlan itu, silakan saja.
---


DI antara kita mungkin ada yang mendehem mendengar penilaian Dahlan
Ranuwiharjo, yang memang pencinta berat BK. Tapi itu tidak seberapa
dahsyat dibanding Wajiz Anwar punya penilaian. Bagi dosen filsafat
IAIN Yogyakarta ini, seperti dikatakan Djohan Effendi dalam
pengantarnya untuk buku catatan harian Ahmad Wahib, BK adalah mujaddid
(pembaru) Islam terbesar abad ke-20. Wahib sendiri, yang sampai akhir
hayatnya adalah calon reporter Tempo, adalah salah satu aktor
pembaruan pemikiran Islam se-angkatan Nurcholish Madjid.
Menurut almarhum Wajiz, alumni Gontor yang melanjutkan pelajarannya
ke Mesir dan kemudian "minggat" ke Jerman lantaran tidak puas, apa
yang dilakukan BK tidak kalah dari upaya para pemikir muslim
terdahulu. Sementara dulu mereka berhasil mengawinkan filsafat Yunani
dan ajaran-ajaran Islam, Bung Karno berhasil mengawinkan Marxisme dan
Islam.

Tapi angkatan yang lebih kemudian pun, termasuk mere-ka yang paling
kritis, juga menempatkan BK sebagai pemikir Islam yang serius. Ulil
Abshar-Abdalla, misalnya. Intelektual NU dan penggiat Jaringan Islam
Liberal ini pernah berkata bahwa kritik Bung Karno terhadap pemahaman
-Islam kaum muslimin sama dengan kritik kaum pembaru sekarang seperti
Nurcholish Madjid, meskipun aksentuasi dan tema-tema yang diambil agak
beda.

Allahu a'lam. Yang pasti, selagi berijtihad melalui
karang-an-karangannya di Bengkulu, tempat dia beroleh istri yang baru,
Perang Dunia II pecah. Dan keadaan ini tidak memberi BK kesempatan
melanjutkan gagasan pembaruannya. BK sudah beralih perhatian. Juga
ketika ia memimpin Republik. Bahkan pada bulan-bulan menjelang
kejatuhannya, ketika BK, dalam puncak ketenarannya setelah sukses
merebut Irian Barat, banyak menerima gelar sarjana kehormatan,
termasuk dari berbagai perguruan tinggi Islam. Pada pidato-pidato
doktor honoris causa-nya itu, agak sulit kita menemukan perkembangan
pemikirannya yang terdahulu, meski pemaparannya tetap memukau. Ini
bisa dilihat dari pidatonya, Tjilaka Negara yang Tidak Ber-Tuhan, di
IAIN Jakarta. Pada kesempatan itu BK antara lain menyatakan:
"Jika kalian ingin mengerti mengapa dulunya Islam pernah mengalami
pasang naik….dan juga pasang surut….bebaskan pikiranmu dari berpikir
biasa, berpikir konvensionil.…kamu mahasiswa IAIN, kamu jangan
mempelajari Islam dan mencoba memasukkan Islam dengan, apa itu, maaf,
jiwa pesantren…."

Hidup dengan "jiwa pesantren", bagi Bung Karno, ibarat tinggal dalam
ruang tertutup. "Bukalah! Bukalah pintu, bukalah jendela! Ya, bahkan
lebih dari itu: sekali kamu keluar dari ruangan pengap itu,
bangkitlah, bangkitlah, naik ke langit...."

Ini adalah Juni, bulan yang mengingatkan kita kepada Bung Karno. Di
bulan ke-6 tahun Masehi, proklamator itu la-hir (1901), menyampaikan
pidatonya yang terkenal tentang Pan-casila (1945), dan wafat (1970).
Dan di antara bentangan usianya yang 69 tahun itu, BK mengisi
hari-harinya dengan u-paya memerdekakan alam pikiran dari "kejumudan-,
takli-dis-me, hadramautisme, dari sikap dan praktek me-ngambing, kolot
bin kolot, mesum mbahnya mesum, dari ling-kungan dupa dan korma dan
jubah dan celak mata dan dari ji-wa pesantren", yang dengan sarkastis
ia sebut Islam sontoloyo.

Anda mungkin bertanya: sudah enam dasawarsa lebih sekarang sejak BK
mewacanakan Islam sontoloyo. Bolehlah dipastikan sebagian dari
aspek-aspek kesontoloyoan yang diungkap BK itu sudah menguap dari alam
pikiran dan jiwa kaum muslimin. Anak-anak muda banyak yang berpikiran
maju, pesantren sudah memodernisasi diri, para santri tidak melulu
sibuk dengan ibadah ritual, melainkan menyebar ke segala lapang
kehidupan, bahkan sempat ada yang jadi pre-siden, seperti BK, meskipun
sebentar. Jadi, adakah kini yang disebut Islam sontoloyo itu?

Kalaulah kita berpegang pada kamus bahwa sontoloyo berarti bodoh,
konyol, atawa tidak beres, terus terang saja ja-wabnya ada dan banyak.
Lihatlah bagaimana kaum birokrat, para elite militer, para pemimpin
partai, atau para pedagang besar, yang berlindung di balik kedamaian
agama, dan mencari penyelamatan diri melalui ritual, sementara tidak
peduli, atau tidak mau tahu, bahwa mereka korup, suka merampas, atau
mengompas kawan sendiri, atau tutup mata terhadap berbagai kejahatan
dan keculasan di sekitar mereka.

Mereka mengira sudah menjadi mukmin hanya dengan berzikir, salat,
naik haji, sedekah, menangis-nangis di layar TV, atau merusak papan
reklame bir dan tempat hiburan. Lalu, ada juga yang ingin
mengembalikan tata pemerintahan ke zaman lampau, menerapkan syariat
dengan hukum-hukum pada abad ke-7 Masehi, tanpa bersedia memahami
keadaan sekeliling. Ada lagi yang memanipulasi simbol-simbol keagamaan
untuk kepentingan politik, sementara antidemokrasi, tidak menghormati
hak asasi manusia, berjihad secara ngawur. Ada yang memperdagangkan
kegiatan keagamaan, ada yang dengan bangga main bom dan membunuhi
orang-orang. Jadi, seperti kata BK dulu, insaflah bahwa "Islamnya kita
masih Islam sontoloyo".

Wednesday, April 05, 2006

Brain Reading

Saturday, March 04, 2006

China and India are two economies that the world is investing A LOT of money in because they are expected to thrive as powerful economies within this century. With that being said, can you imagine the impact on the world if both these countries have a Muslim majority? For those who can speak the chinese and indian languages, you have an excellent opportunity for dawah...Others as well...

Please see the following report:

Muslims in China - report in pictures (NY TIMES)

http://www.nytimes.com/packages/html/weekinreview/20060219_YARDLEY_FEATURE/blocker.html
The following NY Times articles portray the muslim community in Bay Ridge area, an area in New York City:

A Muslim Leader in Brooklyn, Reconciling 2 Worlds